Apa yang terjadi di suri'ah part 2
Siapa Basyar al Asad dan Mengapa Ia Membunuh Ahlussunnah?
Basyar al Asad adalah pemimpin partai
Bath di Suriah yang berideologi sosialis. Namun secara pribadi ia
berideologi Syiah Nushiariyah, salah satu sekte Syiah yang ekstrim.
Dengan demikian tidak heran Rusia yang berpaham komunis dan Iran yang
merupakan manifestasi ajaran Syiah, membantu pemerintahan Baysar al Asad
memerangi umat Islam dan para oposisi, tujuannya agar Baysar al Asad
tetap langgeng di tanah Arab dan cita-cita revolusi Iran untuk
mensyiahkan Arab pun tercapai.
Apabila pembahasan ini dibicarakan dari
kaca mata politik saja, tentu kita tidak akan mencapai substansi
permasalahan dan pembahasan pun akan simpang siur dikarenakan
ketidakpastian berita dan banyaknya kepentingan. Agar lebih menyentuh
substansi permasalahan, pembahasan ini haruslah dibahas dari kaca mata
ideologi, yang mana merupakan penggerak utama aktivitas seseorang atau
kelompok.
Syiah merupakan ajaran yang sudah sangat
lama ada, jauh sebelum keberadaan Amerika dan negara-negara Barat
lainnya. Ajaran ini dicetuskan oleh Abdullah bin Saba, seorang Yahudi
yang berpura-pura masuk Islam untuk memecah belah Islam dari dalam.
Keberadaan mereka di tengah kaum mulimin selalu menimbulkan kerugian dan
pertumpahan darah. Bagi orang-orang yang mempelajari sejarah tentunya
akan tahu apa yang menyebabkan jutaan umat Islam tewas di Baghdad oleh
tentara Mongol dan mengapa pula Timur Lang membantai sekian banyak umat
Islam pada masanya berkuasa. Semua itu karena pengaruh Syiah. Lalu apa
ideologi Basyar al Asad dan Timur Lang yang membuat mereka yakin
mengobarkan peperangan dan tega untuk membunuh melakukan pembantaian.
Berikut ini kami kutipkan dari buku-buku Syiah, bagaimana mereka
memandang Ahlussunnah.
Dari Daud bin Farqad, dia berkata, saya berkata kepada bapakku, Abdullah ‘alaihissalam
“Apa pendapatmu tentang pembunuhan terhadap pembangkang?” Dia menjawab,
“Halal darahnya, tetapi saya merasa khawatir kepadamu. Jika kamu mampu
menimpakan dinding atau menenggelamkannya ke dalam air agar tak ada
seorang pun yang melihatnya, maka lakukanlah.” (Wasail Asy Syiah, 18:436, Bihar Al Anwar,
27:231). Khomeini –pemimpin revolusi Iran- mengatakan, “Jika kamu mampu
untuk mengambil hartanya, maka ambillah dan berikan kepada kami
seperlimanya.”
Sayid Ni’matullah Al Jazairi berkata,
“Sesungguhnya Ali bin Yaqthin, pembantu Rasyid berkumpul di dalam
penjara yang dihuni oleh sekelompok pembangkang (Ahlussunnah), maka dia
menyuruh budak-budaknya untuk meruntuhkan atap agar menimpa orang-orang
yang ada di penjara sehingga mereka semuanya mati dan jumlah mereka
adalah lima ratus orang laki-laki.” (Al Anwar anNu’maniyah, 3:308)
Ni’matullah al Jazairi mengatakan,
“Mereka (Ahlussunnah) adalah orang-orang kafir yang najis berdasarkan
kesepakatan ulama Syiah Imamiyah. Mereka lebih jahat daripada Yahudi dan
Nashrani. Dari tanda orang yang membangkang adalah lebih mengutamakan
selain Ali dalam imamah.” (Al Anwar an Nu’maniyah, 206-207).
Oleh karena itulah, Basyar dan tentaranya
tega melakukan kekejaman sedemikian rupa karena ada motivasi ideologi
yang menuai pahala (jihad). Demikian juga selogan pasukan Iran ketika
membantu pasukan Suriah memerangi Ahlussunnah, mereka mengatakan, “Uqtulul sunnah dakhola al jannah.”
Bunuhilah orang-orang Ahlussunnah maka akan masuk surga. Ketika
diwawancari di stasiun televisi, saat ditanya apakah ia (Basyar) merasa
bersalah melakukan pembantaian tersebut, ia mengatakan “Saya telah
melakukan hal yang terbaik untuk melindungi orang-orang (menurut dia),
jadi mengapa harus merasa bersalah.

0 komentar: